Selasa, 25 Maret 2014

Tes Individu dan Minat

Pengertian Tes Individual

Tes yang hanya dapat diberikan secara orang per orang, tidak dapat diberikan secara kelompok.

Menurut David Wchsler inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. , Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. Intelegensi merupakan keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.

Sedangkan tes intelegensi itu sendiri antara lain;
  1. Suatu pengukuran yang standar dan obyektif terhadap sampel perilaku.
  2. Suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu.
  3. Seperangkat alat ukur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi dan perilaku seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.
  4. Tes untuk mengukur aspek individu secara psikis (tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional) tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.
  5. Suatu teknik atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berpikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif.
Jenis-jenis Tes Inteligensi
Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu;
  1. Tes Intelegensi individual, tes ini hanya dilakukan oleh satu orang saja secara khusus. Tes Intelegensi individual diantaranya :
    -  Stanford - Binet Intelligence Scale
    -    Wechsler - Bellevue Intelligence Scale (WBIS)
    -    Wechsler - Intelligence Scale for Children (WISC)
    -    Wechsler - Adult Intelligence Scale (WAIS)
    -    Wechsler - Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI).
    Kelebihan pada tes ini antara lain penguji dapat menilai dengan jelas bagaimana individu yang sedang menjalani tes tersebut. Misalnya mengamati bagaimana individu menyusun laporan, minat dan perhatian individu, kecemasan dalam pengerjaan tugas, serta tingkat toleransi menghadapi rasa frustasi. Kekurangan tes ini adalah kurang begitu nyaman.

  2. Tes Intelegensi kelompok, tes ini dilakukan guna mencari data secara cepat secara serentak. Tes Intelegensi kelompok diantaranya :Pintner Cunningham Primary Test-    The California Test of Mental Maturity
    -    The Henmon- Nelson Test Mental Ability
    -    Otis - Lennon Mental Ability Test
    -    Progressive Matrices
    Kelebihan pada tes ini antara lain rasa nyaman. Tes ini juga memiliki kekurangan antara lain peneliti tidak dapat menyusun laporan individu, tidak dapat menentukan tingkat kecemasan individu, instruksi yang kurang jelas karena ribut atau peserta yang satu diganggu oleh peserta lainnya.

  3. Tes Intelegensi dengan tindakan/perbuatan

Pengertian Tes Minat

Pengertian Minat
Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut Bimo Walgito
(1981: 38).
Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami. Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi
siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.

W. S Winkel mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang agak menetap untuk merasa tertarik pada bidang-bidang tertentu
dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (1983 : 38), sedangkan menurut Witherington (1985 : 38) minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek, seseorang, suatu soal atau situasi
tertentu yang mengadung sangkut paut dengan dirinya atau dipandang sebagai sesuatu yang sadar.


* Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat
Minat pada seseorang akan suatu obyek atau hal tertentu tidak akan muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba dalam diri individu.
Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses. Dengan adanya perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut dapat berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan hal tertentu.

  • Miflen, FJ & Miflen FC, (2003:114) mengemukakan ada dua faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik, yaitu:
1. Faktor dari dalam yaitu sifat pembawaan
2. Faktor dari luar, diantaranya adalah keluarga, sekolah dan masyarakat atau lingkungan.

  • Crow and Crow yang dikutip (Dimyati Mahmud, 2001:56) yang menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari timbulnya minat seseorang yaitu :

1. Faktor dorongan yang berasal dari dalam. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong dari motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dan lingkungan dimana mereka berada.
3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau obyek tertentu.


  • Berdasarkan definisi minat tersebut dapatlah penulis kemukakan bahwa minat mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Minat adalah suatu gejala psikologis
  2. Adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran dari subyek karena tertarik.
  3. Adanya  perasaan  senang  terhadap  obyek  yang  menjadi  sasaran
  4. Adanya   kemauan   atau   kecenderungan   pada   diri   subyek   untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan.


Sumber : 
http://books.google.co.id/books/about/Simply_Psychology.html?id=6Ar8EEy3_0kC&redir_esc=y
http://belajarpsikologi.com/pengertian-minat/


Senin, 24 Maret 2014

Kedisiplinan dan Prestasi Belajar pada Mahasiswa

Pengertian Kedisiplinan

Kata kedisiplinan berasal dari bahasa Latin yaitu discipulus, yang berarti mengajari atau mengikuti yang dihormati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), menyatakan bahwa disiplin adalah:

a. Tata tertib (di sekolah, di kantor, kemiliteran, dan sebagainya).
b. Ketaatan (kepatuhan) pada peraturan tata tertib.
c. Bidang studi yang memiliki objek dan sistem tertentu.

Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengannya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat sebagaimana lazimnya (Prijodarminto, 1994).

Fungsi kedisiplinan menurut Tu’u (2004) adalah:
a. Menata kehidupan bersama
Kedisiplinan sekolah berguna untuk menyadarkan siswa bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar.
b. Membangun kepribadian
Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti , mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
c. Melatih kepribadian
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih.
d. Pemaksaan
Kedisiplinan dapat terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar, misalnya ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, terpaksa harus mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut.
e. Hukuman
Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut.
f. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Kedisiplinan berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar dan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran

Pengertian Prestasi Belajar
 Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 895) berarti :
 a) penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan
dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru
b) kemampuan yang sungguh-sungguh ada atau dapat diamati
(actual ability) dan yang dapat diukur langsung dengan tes
tertentu.

Teori Skinner
Teori yang dikembangkan Skinner terkenal denganoperant conditioning,  yaitu bentuk belajar yang menekankan respon-respon atau tingkah laku yang sukarela dikontrol oleh konsekuen-konsekuennya. Berdasarkan eksperimennya, Skinner berkesimpulan bahwa operant conditioning lebih banyak membentuk tingkah laku manusia daripada classical conditioning  karena  kebanyakan  respon-respon  manusia lebih bersifat disengaja daripada reflektif

contohnya: saat mahasiswa telat masuk kuliah, mahasiswa tersebut tidak diperbolehkan untuk absen (ini merupakan contoh punishment)

Teori Albert Bandura

Teori pembelajaran sosial menganggap manusia sebagai makhluk yang aktif, berupaya membuat pilihan dan menggunakan proses-proses perkembangan untuk menyimpulkan peristiwa serta berkomunikasi dengan orang lain. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh pengaruh lingkungan dan sejarah perkembangan seseorang atau bertindak pasif terhadap pengaruh lingkungan. Dalam banyak hal, manusia adalah selektif dan bukan entiti yang pasif, yang boleh dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka. 

contohnya: seorang anak yang sedang meniru (imitasi) tingkah laku ayahnya 

Sumber:
http://www.psychologymania.com/2011/11/albert-bandura-tokoh-pembelajaran.html
http://www.academia.edu/5084292/Teori_Skinner
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23401/4/Chapter%20II.pdf
http://eprints.uny.ac.id/8915/3/bab%202%20-08402244030.pdf
 



Minggu, 23 Maret 2014

Early Childhood In Developmental Psychology (Cognitive Development Jean Piaget)





Early childhood is a time of remarkable physical, cognitive, social and emotional development. Infants enter the world with a limited range of skills and abilities. Watching a child develop new motor, cognitive, language and social skills is a source of wonder for parents and caregivers. 

According to Jean Piaget, the understanding thoughts of a child are constructed through a number of channels, which include, listening, reading, experiencing, and exploring the place they live in or the environment they grow up in. The work of Jean Piaget has been labeled as constrictive and interacting. Before the time of Jean Piaget, child psychology was not given that much importance. You can also say that, before the time of Jean Piaget, there was no such thing as child psychology.



    Children reason and think differently during different times in their lives. Jean Piaget believed that everyone boy or a girl, pass through an invariant sequence. This sequence comprise of four qualitatively distinct stages divided in the life of the person. Although, all children will pass these stages, but the ages at which they pass or enter these stages is still a variable. The four cognitive stages are:

    • Sensorimotor (from birth to two years of age):  A period of time between birth and age two during which an infant's knowledge of the world is limited to his or her sensory perceptions and motor activities. Behaviors are limited to simple motor responses caused by sensory stimuli.
    • Preoperational (from age two to age seven):  A period between ages two and six during which a child learns to use language. During this stage, children do not yet understand concrete logic, cannot mentally manipulate information and are unable to take the point of view of other people.
    • Concrete (Seven to Eleven years of age)A period between ages seven and eleven during which children gain a better understanding of mental operations. Children begin thinking logically about concrete events, but have difficulty understanding abstract or hypothetical concepts.
    • Formal Operation or Abstract Thinking (from eleven years of age and so on)A period between age twelve to adulthood when people develop the ability to think about abstract concepts. Skills such as logical thought, deductive reasoning and systematic planning also emerge during this stage

    For this photo, can be explain with the first of four cognitive stages is sensorimotor period. The first stage of Piaget's theory lasts from birth to approximately age two and is centered on the infant trying to make sense of the world. During the sensorimotor stage, an infant's knowledge of the world is limited to his or her sensory perceptions and motor activities. Behaviors are limited to simple motor responses caused by sensory stimuli. Children utilize skills and abilities they were born with (such as looking, sucking, grasping, and listening) to learn more about the environment.
    • Object Permanence
    According to Piaget, the development of object permanence is one of the most important accomplishments at the sensorimotor stage of development. Object permanence is a child's understanding that objects continue to exist even though they cannot be seen or heard.

    Substages of the Sensorimotor Stage:

    The sensorimotor stage can be divided into six separate substages that are characterized by the development of a new skill.

    1. Reflexes (0-1 month):

      During this substage, the child understands the environment purely through inborn reflexes such as sucking and looking.
    2. Primary Circular Reactions (1-4 months):

      This substage involves coordinating sensation and new schemas. For example, a child may such his or her thumb by accident and then later intentionally repeat the action. These actions are repeated because the infant finds them pleasurable.
    3. Secondary Circular Reactions (4-8 months):

      During this substage, the child becomes more focused on the world and begins to intentionally repeat an action in order to trigger a response in the environment. For example, a child will purposefully pick up a toy in order to put it in his or her mouth.
    4. Coordination of Reactions (8-12 months):

      During this substage, the child starts to show clearly intentional actions. The child may also combine schemas in order to achieve a desired effect. Children begin exploring the environment around them and will often imitate the observed behavior of others. The understanding of objects also begins during this time and children begin to recognize certain objects as having specific qualities. For example, a child might realize that a rattle will make a sound when shaken.
    5. Tertiary Circular Reactions (12-18 months):

      Children begin a period of trial-and-error experimentation during the fifth substage. For example, a child may try out different sounds or actions as a way of getting attention from a caregiver.
    6. Early Representational Thought (18-24 months):

      Children begin to develop symbols to represent events or objects in the world in the final sensorimotor substage. During this time, children begin to move towards understanding the world through mental operations rather than purely through actions.
         


    Sources:
    http://www.sciography.com/jean-piaget.htm
    http://psychology.about.com/od/developmentalpsychology/ss/early-childhood-development_3.htm
    http://psychology.about.com/od/piagetstheory/p/sensorimotor.htm

    Selasa, 18 Maret 2014

    Konsep Dasar Tes Psikologi


                Tes-tes psikologi merupakan alat. Alat apapun dapat menjadi instrumen untuk melakukan hal yang baik atau buruk, tergantung pada cara instrumen itu digunakan. Para pengguna tes perlu mengetahui cara mengevaluasi tes-tes. Seberapa baik hasil tes itu terhadap penggunaannya? Informasi apa saja yang dapat diberikan oleh tes itu tentang orang yang menjalaninya? Bagaimana hasil-hasil tes itu dapat diintegrasikan ke dalam jaringan data yang menghasilkan kepada keputusan-keputusan tindakan? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi pokok bahasan kali ini.

    Penggunaan dan Ragam Tes Psikologi

     Secara tradisional, fungsi tes psikologis adalah untuk mengukur perbedaan antara indvidu atau antara reaksi-reaksi individu yang sama dalam berbagai situasi yang berbeda. Salah satu masalah awal yang merangsang pertumbuhan tes psikologis adalah identifikasi orang-orang yang terbelakang mentalnya.
    1. Tes Psikologis berdasarkan penggunaan klinis mencakup pengujian orang-orang dengan cacat emosional yang parah dan masalah perilaku lainnya
    2. Penggunaan dalam bidang Pendidikan yaitu 
    • mengklasifikasi anak-anak dengan acuan pada mereka untuk bisa mengambil manfaat dari berbagai jenis pelajaran di sekolah,
    • identifikasi siswa mana yang memiliki proses belajar yang cepat ataupun lamban
    • menyeleksi orang-orang yang melamar masuk sekolah profesional
        3.  Seleksi dan klasifikasi SDM untuk bidang industri menggambarkan penerapan utama lainnya seperti penerimaan karyawan sesuai dgn kebutuhan industri, promosi jabatan, Pemecatan.
         4.  Penggunaan tes dalam bidang konseling perseorangan secara bertahap meluas dari bimbingan yang berlingkup sempit menyangkut rencana pendidikan dan pekerjaan sampai pada keterlibatan dengan semua aspek kehidupan seseorang
        5.   Tes Psikologis untuk meningkatkan pemahaman diri dan pengembangan diri, hasil skor tes merupakan bagian dari informasi yang diberikan kepada individu sebagai alat bantu untuk proses-proses pengambilan keputusan

                Aneka ragam tes yang dirancang untuk berbagai maksudini, berbeda juga dalam sifat-sifat utamanya.
    1.  Berbeda dalam cara pelaksanaannya, seperti dalam tes perorangan atas setiap orang oleh seorang penguji terlatih, tes kelompok-kelompok besar secra bersama-sama atau penyelenggaraan tes oleh komputer.
    2.      Berbeda dalam aspek-aspek perilaku yang ada dalam lingkup-lingkup tes-tes 
    3.   Tes-tes lainnya menyediakan ukuran variabel-variabel afektif atau kepribadian, seperti minat, sikap dan nilai.
    Apa Tes Psikologi Itu?
    Dalam Tes Psikologi terdapat:
    1. Sampel Perilaku, sebuah tes psikologis pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu.
    2. Standardisasi, diimplikasikan keseragaman cara dalam penyelenggaraan dan penskoran tes. Jika skor yang diperoleh harus berbagai macam mau orang harus bisa dibandingkan, kondisi-kondisi testing jelas harus sama bagi semua.
    3. Pengukuran Kesulitan yang Obyektif, rujukan pada definisi tes psikologis yang merupakan pembuka pembahasan ini akan menunjukkan bahwa tes semacam ini dicirikan sebagai ukuran yang obyektif dan sekaligus dibakukan.
    4. Kehandalan, konsistensi skor-skor yang didapatkan oleh orang yang sama ketika tes diulang dengan tes yang sama atau dengan tes yang ekuivalen dengan tes sebelumnya. Evaluasi objektif tes psikologis terutama mencakup kehandalan dan validitas tes dalam situasi khusus. 
    5. Validitas, sejauh mana tes berhasil mengukur apa yang memang hendak diukur. Validitas memberikan pemeriksaan langsung pada sejauh mana tes tertentu memenuhi fungsinya. Validitas biasanya memerlukan kriteria independen dan eksternal tentang apapun yang menjadi sasaran pengukuran tes tersebut.

    Mengapa Pengunaan Tes Psikologi Harus Memiliki Kontrol?

    Ada dua  alasan utama untuk mengontrol penggunaan tes psikologis:
    1. Untuk memastikan bahwa tes itu diberikan oleh penguji yang memenuhi syarat dan bahwa skor dapat digunakan dengan sepantasnya
    2. Untuk mencegah keakraban orang dengan isi tes, yang akan merusak tes.

    Penyelenggaraan Tes Psikologis
    1. Persiapan Sebelum Para Penguji, ini merupakan prasyarat satu-satunya yang paling penting bagi prosedur testing yang baik adalah persiapan sebelumnya
    2. Kondisi Saat Melakukan Tes, prosedur yang distandardisasi berlaku tak hanya pada instruksi verbal, penentuan waktu, bahan-bahan, dan aspek-aspek tes lainya tetapi juga pada lingkungan testing. Perhatian harus diberikan pada pemilihan ruang testing yang sesuai.
    3. Memperkenalkan Tes: Rapport dan Orientasi Peserta Tes 
    Demikian Ulasan dari saya, Semoga Bermanfaat ya. 
    Keep Always Spirit and Always Learning

    Sumber : Anastasi Anne, Susaba Urbina (2007). Tes Psikologi. Edisi Ketujuh. Jakarta: PT indeks

    Sabtu, 08 Maret 2014

    Psikodiagnostik dan Psikologi Diferensial

    Psikodiagnostik dan Psikologi Diferensial
    Psikodiagnostik terdiri atas 2 asal kata, 1. Psikologi dan 2. Diagnosa. Diagnosis berasal dari Greek (Jerman) Yunani, yaitu "gnosis" yang berarti Knowledge From Experience (Pengetahuan dari pengalaman). Diagnostik berarti mencari untuk mengalami suatu pengetahuan. Jadi, psikodiagnostik adalah ilmu yang mempelajari masalah perilaku yang muncul. cara menentukan diagnostik yaitu harus mengetahui ilmu dasar beserta konsep dari sebuah permasalahan psikologis.

    Kegunaan Psikodiagnostik:

    - klinis: untuk memeriksa, meneliti potensi pada klien (fokusnya pada usaha mendeteksi gangguan psikis). Di rumah sakit & pusat2 kesehatan mental.
    - legal setting (hukum): membantu proses peradilan agar supaya permasalahan psikologis yang dialami klien bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Di peradilan, LP, tempat2 rehabilitasi.
    - educational, vocational selection: pemilihan jurusan, rekruitmen, pemilihan pekerjaan.
    - Research setting (penelitian): merupakan pengembangan termasuk up date alat-alat penelitian.

     Tujuan Psikodiagnostik:
    1. Memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya; dalam aspek perkembangan intelektual, kepribadian, sosial, emosi. Dapat memahami kebutuhan individu secara optimal.
    2. Mengetahui kelemahan2, keunggulan2, agar kehidupannya dapat dimaksimalkan
    3. Pemahaman terhadap individu merupakan sarana yang baik bagi keluarga untuk memberikan perlakuan yang tepat.
    4. untuk penempatan pendidikan dan pekerjaan secara tepat.
    5. Untuk kepentingan bimbingan konseling.
    6. Sebagai bahan proses terapi bila dibutuhkan.

    Kedudukan psikodiagnostik pada psikologi:
    a. Psikologi differensial: membicarakan faktor2 yang menyebabkan adanya perbedaan individu dalam kelompoknya. (umur, lingkungan, pembawaan).
    b. Psikologi perkembangan: membicarakan rentang kehidupan manusia. (tes inteligensi).
    c. Psikologi industri: membantu dalam dalam rekruitmen, seleksi, placement.
    d. Penggunaan statistik: psikodiagnostik tidak berarti apa2 tanpa statistik.


     Psikologi diferensial membagi individu ke dalam dua kelompok berdasarkan masing-masing atribut behavioral tersebut. Dengan demikian seorang individu akan digolongkan sebagai ekstrovert atau introvert, dominan atau submisif, dsb. Tujuan psikolog menggunakan pendekatan diferensial dalam studi tentang perkembangan psikologis adalah untuk mengetahui berbagai jenis sub-kelompok pada atribut status dan perilakunya. Para psikolog menentukan beberapa atribut tersebut untuk lebih jauh meneliti diferensiasi pola perkembangannya. Dengan demikian, antara lain, akan dapat diperoleh jawaban bagaimana perbedaan perkembangan antara laki-laki dan perempuan pada usia remaja. Selain itu mungkin akan diperoleh jawaban, misalnya, bahwa pada usia remaja anak laki-laki akan lebih dominan, dan anak perempuan lebih submisif.


    Sumber: 
    1.  http://www.slideshare.net/elmakrufi/pengantar-psikodiagnostik
    2. http://psikologi-artikel.blogspot.com/2010/02/pengantar-psikodiagnostik.html
    3. http://psysant.blogspot.com/2011/03/pendekatan-ipsatif.html




    Rabu, 05 Maret 2014

    pengantar psikodiagnostik

    Psikodiagnostik 1
    Psikologi adalah ilmu tentang jiwa melalui perilaku dimana perilaku tersebut merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan serta orang lain melalui proses belajar.
    Psikologi merupakan ilmu individual yang pada diri individu terdapat perbedaan perilaku yang merupakan hasil interaksi dengan individu lingkungan serta orang lain melalui proses belajar yang berbeda dari masing-masing individu.
    Syarat sebuah ilmu itu benar dan dapat dipercaya ada 4
    1. ilmu tersebut harus empiris
    2. rasional
    3. dapat diuji
    4. dapat diukur 
    Psikologi erat kaitannya dengan apa & bagaimana sebuah perilaku individu dapat terbentuk menjadi kepribadian yang menetap dalam diri individu. memahami tingkah laku manusia normal dan abnormal bukan hal mudah butuh seperangkat persyaratan teoritik, metodik, dan keterampilan pemeriksaan psikologis.
    Cara menentukan diagnostik harus mengetahui konsep dan ilmu dasar dari sebuah permasalahan psikologis, ada 4 manfaat dalam sebuah diagnosis:
    1. describe (menggambarkan)
    2. explain (menjelaskan)
    3. predict (memprediksi)
    4. control (mengarahkan)